Ibukota Jakarta Pindah ke Kalimantan??

Denger-denger isu tentang rencana pemindahan Ibu kota kayaknya cukup menarik untuk dibahas disini. So what gitu loh?? toh negara kita tercinta sudah pernah mengalaminya bukan? Sekarang muncul lagi isu tentang pemindahan Ibukota Jakarta karena Jakarta  dianggap sudah tidak lagi mendapat kepercayaan penuh sebagai pusat pemerintahan. Tata ruang ibu kota jakarta yang sudah tidak bisa ditangani secara konsep sehingga muncul permasalahan dimana-mana baik kemacetan yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari, hunian kumuh yang menjadi tempat favorit para pendatang baru dan juga masalah bajir dari tahun ke tahun yang tidak bisa ditangani secara tuntas. Tetapi yang menjadi pokok masalah adalah Over Populasi (Jumlah penduduk melebihi daya tampung) Oleh karena itulah pemerintah mempunyai gagasan untukmemindahkan ibukota negara Republik Indonesia.

Dulu pada jaman revolusi Ibukota Indonesia pernah dipindah dari Jakarta (Batavia  saat itu)  ke Jogjakarta. Mengingat situasi keamanan saat itu semakin memburuk. Pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta pindah ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta api yang disebut dengan singkatan KLB (Kereta Luar Biasa), sekaligus memindahkan ibukota. Dibeberapa negara lain juga sudah pernah memindahkan Ibulotanya dengan berbagai alasan. Contohnya,  seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin. Bahkan Malaysia pun baru – baru ini akan mempersiapkan ibukota baru untuk masa depan, tepatnya di Putrajaya, Selatan Kuala Lumpur. Bagaimana dengan Indonesia sendiri?

Over Populasi (Jumlah penduduk melebihi daya tampung) merupakan penyebab utama kenapa banyak negara memindahkan ibukotanya. Sebagai contoh saat ini Jepang dan Korea Selatan tengah merencanakan pemindahan ibukota negara mereka. Jepang ingin memindahkan ibukotanya karena wilayah Tokyo Megapolitan jumlah penduduknya sudah terlampau besar yaitu: 33 juta jiwa. Korsel pun begitu karena wilayah kota Seoul dan sekitarnya jumlah penduduknya sudah mencapai 22 juta. Bekas ibukota AS, New York dan sekitarnya total penduduknya mencapai 22 juta jiwa. Jakarta sendiri menurut mantan Gubernur DKI, Ali Sadikin, dirancang Belanda untuk menampung 800.000 penduduk. Namun ternyata di saat Ali menjabat Gubernur jumlahnya membengkak jadi 3,5 juta dan sekarang membengkak lagi hingga daerah Metropolitan Jakarta yang meliputi Jabodetabek mencapai total 23 juta jiwa.

Semakin bertambahnya jumlah penduduk karena tingginya tingkat urbanisasi ternyata memunculkan masalah baru. Salah satunya adalah kemacetan. Pemicunya masalah klasik, pertambahan jalan tidak sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta 2008 menunjukkan, pertambahan jumlah sepeda motor sekitar 1.500 unit per hari dan jumlah mobil bertambah 250 unit per hari. Total jumlah kendaraan yang melaju di jalanan mencapai sekitar lima juta unit per hari. Total panjang jalan di DKI Jakarta mencapai 5.621,5 kilometer dan hanya bertambah 0,01 persen per tahun. Dengan ketidakseimbangan jumlah pertambahan kendaraan dan panjang jalan ini, Jakarta akan mencapai kondisi macet total dalam waktu tak lama lagi. Beberapa pengamat transportasi memperkirakan, semua kendaraan di Jakarta akan terjebak kemacetan sesaat setelah keluar dari rumah pada tahun 2014. Ahli transportasi Universitas Trisakti, Fransiskus Trisbiantara, bahkan lebih ekstrem lagi dengan memperkirakan kemacetan total dapat terjadi pada 2011-2012.

Hehe.. Bisa anda bayangkan betapa ruwetnya Jakarta saat ini??

Bukan itu saja masalah yang dihadapi Jakarta saat ini.  Banjir yang sudah menjadi rutinitas warga Jakarta juga merupakan masalah serius bagi Jakarta sebagai pusat pemerintahan Republik Indonesia. Selain itu secara umum topografi wilayah DKI Jakarta yang relatif datar dan 40% wilayah DKI Jakarta berada di dataran banjir Kali Angke, Pesanggrahan, Ciliwung, Cipinang, Sunter, dll. Sungai – sungai ini relatif juga terletak di atas ketinggian kawasan sekitarnya. Karena fungsi sungai – sungai ini tadinya merupakan saluran irigasi pertanian. Sedangkan kondisi saat ini kebanyakan lahan pertanian diubah menjadi perumahan dan lain – lain. Akibatnya  air secara otomatis berkumpul di kawasan cekungan di Jakarta Utara jika hujan tiba.

Oke, jika setuju akan dipindah. Dimana daerah mana lokasi yang paling tepat sebagai Ibukota Indonesia yang baru..

Pertama Jawa adalah pulau kecil yang sudah terlampau padat penduduknya. Luas pulau Jawa hanya 134.000 km2 sementara jumlah penduduknya sekitar 135 juta jiwa. Kepadatannya sudah mencapai lebih dari 1.000 jiwa per km2. Apalagi pulau Jawa yang subur dengan persawahan yang sudah mapan seharusnya dipertahankan tetap jadi lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan di Indonesia. Kalau dipaksakan di Jawa, maka luas sawah akan berkurang sebanyak 50.000 hektar! Produksi beras/pangan lain akan berkurang sekitar 200 ribu ton per tahun! Indonesia akan semakin kekurangan pangan karenanya. Selama ibukota tetap di Jawa, pulau Jawa akan semakin padat dan pembangunan tidak tersebar ke seluruh Indonesia. Jawa sudah kebanyakan penduduk/over-crowded!

Ada pun pulau Sumatera letaknya relatif agak di Barat. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta, pembangunan di Sumatera sudah cukup lumayan.

Sulawesi dengan luas 189.000 km2 dan jumlah penduduk sekitar 15 juta jiwa masih terlalu kecil wilayahnya. Sumatera dan Sulawesi adalah pulau yang subur dan cocok untuk pertanian. Jadi sayang jika pertumbuhan jumlah penduduk dipusatkan di situ. Belum lagi kedua wilayah ini rawan dengan gempa bumi dan tsunami.

Ada pun Kalimantan luasnya 540.000 km2 dengan jumlah penduduk hanya 12 juta jiwa. Pulau Kalimantan jauh lebih luas dibanding pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jumlah penduduknya justru paling sedikit.

Di pulau Kalimantan juga tidak ada gunung berapi dan merupakan pulau yang teraman dari gempa. Sementara di pesisir Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa juga ombak relatif tenang dan aman dari Tsunami. Ini cocok untuk jadi tempat ibukota Indonesia yang baru.

Sebaliknya Jakarta begitu dekat dengan gunung Krakatau yang ledakkannya 30 ribu x bom atom Hiroshima dengan tsunami setinggi 40 meter. Efek ledakan Krakatau terasa sampai Afrika dan Australia. Sekarang gunung Krakatau yang dulu rata dengan laut telah “tumbuh” setinggi 800 meter lebih dengan kecepatan “tumbuh” sekitar 7 meter/tahun. Sebagian ahli geologi memperkirakan letusan kembali terulang antara 2015-2083. Jadi Jakarta tinggal “menunggu waktu” saja…

Trus bagaimana dengan Provinsi Papua.. Ah, biar sobat aja yang menilai..

Tentang indravaganza

Unique Me
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ibukota Jakarta Pindah ke Kalimantan??

  1. oneal berkata:

    saya sebagai putera asli kalimantan 1000% setuju ibukota di pindahkan kekalimantan ?…karena kalimantan kasa sumber daya alam ?….jadi g usah setorrrr upeti kejakarta uyk bangun propensi lain kalimantan jdi miskin ?…..ayo dukung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s